Lalu seorang pejabat, dengan bayi dalam dekapan, datang mengajukan sebuah pertanyaan kepada Al-Mustafa:
Bicaralah pada kami tentang anak keturunan. Bolehkan mereka berbisnis jika mereka dewasa kelak?
Maka jawabnya: Anakmu bukan milikmu. Mereka putra-putri Sang Hidup yang rindu pada diri sendiri. Adalah urusan mereka ingin menjadi arsitek, dokter, tentara, konglomerat, atau pedagang asongan. Adalah urusan mereka pula menjadi bukan apa-apa.
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tetapi bukan hakmu. Jadi, jangan paksa mereka menjadi pengusaha, terutama jika mereka tidak punya cukup bakat membedakan mana kepentingan pribadi dan mana kepentingan negara.
Berikan mereka kasih sayangmu, tetapi jangan sodorkan katebelece dan memo saktimu. Sebab jika mereka berbisnis dengan memo dan pengaruh jabatanmu, mereka bukan pengusaha, melainkan benalu di pohon jambu.
Kehidupan tak pernah berjalan mundur. Pun tidak tenggelam di masa lampau. Patut kau beri mereka rumah yang baik untuk raganya, juga Baby Benz, wisata tahunan ke Beverly Hills, tapi asal bukan dari uang hasil korupsimu.
Mereka adalah penghuni rumah masa depan. Yang tiada dapat kaukunjungi, sekalipun dalam impian. Jadi, jangan harap mereka kelak menjadi ladang uang untuk bekal pensiunmu tujuh turunan.
Kau boleh menyerupai mereka. Namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab kau pejabat dan mereka hanya anak pejabat... ***